Independen.Net

Portal Berita Independen

Articles by "Sri Mulyani"


Independen.Net - Kemenkeu - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati hadir di Rapat Koordinasi Reformasi Birokrasi Kementerian Agama (Kemenag) Tahun 2017, di Sultan Hotel and Residence pada hari Selasa (11/04). Menkeu memaparkan pengalaman reformasi birokrasi yang terjadi di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan berbagi cerita tersebut agar Kemenag dapat memetik esensi, untuk membantu proses reformasi birokrasi di tubuh organisasinya.
Kementrian Keuangan Logo

Menurut Menkeu, sebuah reformasi membutuhkan sebuah tujuan yang jelas, yang nantinya dapat diterjemahkan dalam rencana-rencana implementasi yang dapat dimonitor serta diukur. Dalam reformasi, sebuah institusi tidak cukup hanya mengikuti institusi lain, tetapi juga harus memiliki jiwa sendiri. Sehingga nantinya, institusi tersebut tidak hanya “meminjam” tetapi juga ikut “menggerakkan”. "Reformasi harus punya jiwa," kata Menkeu.

Terkait Reformasi Birokrasi dan Transformasi Kelembagaan (RBTK) di Kemenkeu(Kemenkeu), Menkeu menjelaskan bahwa momentumnya dimulai dari perubahan fundamental dalam pengelolaan keuangan negara, melalui lahirnya Undang-Undang Keuangan Negara dan Perbendaharaan Negara. Cita-cita agar menjadi Kemenkeu terbaik di dunia juga menjadi dasar RB Kemenkeu. "Trust adalah esensi yang penting," tambah Menkeu.

Demi mewujudkan “kepercayaan” dari stakeholders, maka Kemenkeu mengaplikasikan 5 nilai yaitu  integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan dan kesempurnaan. Dari 5 nilai tersebut, Kemenkeu menerjemahkannya menjadi reformasi organisasi, reformasi sumber daya manusia, dan reformasi pengukuran kinerja. Oleh karena itu, Menkeu menggarisbawahi agar reformasi dilakukan dan dikonsep sendiri, agar timbul rasa memiliki yang menjadi “roh” pada perubahan tersebut. "Untuk Kementerian Agama harus mencari apa roh dari perubahan itu," saran Menkeu sebagai tambahan.

Sebagai informasi, perjalanan RBTK di Kemenkeu sudah melalui 4 tahap yaitu periode I (2002-2006) terkait reformasi pengelolaan keuangan negara dan moderenisasi administrasi perpajakan; periode II (2007-2012)  terkait integrasi 3 pilar RB Kemenkeu dengan integrasi 8 area perubahan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi; periode III (2012-2016) terkait penetapan dan implementasi Cetak Biru RBTK mengenai 87 inisiatif Transformasi Kelembagaan dan 9 arah kebijakan Transformasi Organisasi; serta periode IV terkait penetapan 20 Inisiatif Baru dalam rangka penguatan implementasi Program RBTK Kemenkeu. (yog/as)

Sri Mulyani - Bappenas


Independen.Net, Kemenkeu - Pada tahun 2018, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,4-6,1 persen. Pemerintah mengindikasikan ekonomi akan bertumbuh pada angka 5,6 persen, namun saat ini, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Bappenas, serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian akan melakukan kajian agar angka yang diproyeksi menjadi kredibel. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menekankan, pemerintah terus optimistis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Ini bukan sekedar angka, tapi angka ini akan jadi basis kita menghitung APBN dan juga untuk memberikan signal bagaimana arah (kebijakan) pemerintah,” katanya dalam dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat (Rakorbangpus) 2017 dan Temu Konsultasi Triwulanan II dalam rangka penyusunan RKP 2017, yang bertema "Memacu Investasi dan Infrastruktur untuk Pertumbuhan dan Pemerataan" di Bappenas pada Selasa (11/04).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa semakin besar pertumbuhan ekonomi, akan menyebabkan semua komponen pertumbuhan untuk naik lebih tinggi. Ada tiga sisi yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu pertama dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, impor; (ii) sisi produksi, pertanian, industri, pertambangan, konstruksi, perdagangan, transportasi, gudang, informasi komunikasi jasa keuangan; dan (iii) sisi spasial, pulau mana harus tumbuh berapa banyak untuk bisa mencapai angka pertumbuhan yang ideal.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya ditopang oleh Pulau Jawa saja. Oleh karena itu, pertumbuhan spasial antar pulau sangat penting. “Semua punya kontribusi, kalau ada satu saja mesin mati atau sakit, itu bisa mengurangi daya dorong ekonomi kita,” tegasnya. Investasi menjadi sangat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Indonesia membutuhkan Rp5.000 triliun, namun hanya mampu dibiayai oleh APBN sekitar Rp429 triliun. Oleh karena itu, yang paling berkesinambungan dalam investasi adalah dari masyarakat dan dunia usaha melalui perbankan.

“Tidak ada tumbuh tinggi, tapi tumbuh yang berkualitas, tumbuh tapi mengurangi kesenjangan, tumbuh tapi mengurangi kemiskinan. Tumbuh itu yang menikmati semua, terutama yang 40% paling bawah (piramida),” harapnya. (ath/as)

Menkeu sri Mulyani MoU Presiden IDB Bandar bin Muhhamad SMI Sri Martini

Independen.Net, Kemenkeu - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati beserta Presiden IDB Dr Bandar bin Muhammad Hamzah Hajjar dan Direktur Utama PT SMI Erma Sri Martini, mengadakan konferensi pers terkait acara The 3rd Member Countries Sovereign Investments Forum pada Selasa (11/04) di Bali International Convention Center.

Menkeu menjelaskan bahwa pertemuan yang diselenggarakan oleh IDB bersama-sama dengan PT SMI adalah wadah yang mengundang para Sovereign Wealth Fund (SWF) dari berbagai negara, tidak hanya negara-negara anggota IDB. Ini merupakan kali ketiga pelaksanaan forum serupa setelah sebelumnya berturut-turut di Jeddah dan Morocco.

“Tujuan dari SIF ini untuk mempertemukan dan meng-explore berbagai kesempatan yang ada di negara IDB, dalam bentuk proyek infrastruktur maupun proyek lain yang dianggap cocok dengan kebutuhan SWF di dunia, yang membutuhkan lokasi investasi yang berkualitas baik,” jelas Menkeu.

Di kesempatan yang sama, Presiden IDB juga menyampaikan bahwa forum ini penting dilaksanakan agar negara-negara anggota IDB maupun luar IDB, dapat saling bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur. Salah satu bentuk kerja sama adalah penandatanganan Nota Kesepahamanan antara IDB dan PT SMI.

Enam poin pada MoU antara IDB dan PT SMI yang telah dilaksanakan pada malam pembukaan adalah pertama, co-financing project dalam bentuk pinjaman. Kedua, co-investment project dalam bentuk equity. Ketiga, explore fund untuk menarik SWF. Keempat, pembiayaan untuk PT SMI. Kelima, technical assistant. Keenam, capacity building untuk Unit Usaha Syariah PT SMI. (mra/as)

Sri Mulyani di Direktorat Jendral Pajak


Independen.Net, Kemenkeu - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memberikan arahan kepada seluruh pejabat Eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP), pada acara Leadership Development Program di Ruang Rapat Utama Gedung Mar’ie Muhammad, DJP pada Senin (10/04).

Dalam arahannya, Menkeu menyebutkan bahwa ia telah berulang kali memberikan penegasan mengenai betapa pentingnya peranan DJP, terutama level pimpinannya, bagi keseluruhan kehidupan Republik Indonesia. “Pimpinan di Direktorat Jenderal Pajak adalah orang yang sangat menentukan maju dan mundurnya republik ini. Anda itu adalah mewakili suatu kepentingan yang sangat besar yaitu kepentingan bangsa, dan oleh karena itu saya ingin kembali mengingatkan itu kepada anda semua,” ungkapnya.

Sebagai seorang “leader”, Menkeu berpesan agar para pejabat Eselon II di DJP selalu memiliki dua dimensi, yaitu sebagai role model pemimpin yang dapat diandalkan dan pelindung anak buah, selain sebagai “manager” misi tujuan yang harus dicapai organisasi.

“Saya ingin jiwa leadership masuk di dalam pikiran anda, perasaan anda, dan tularkan kepada anak buah anda. Sampaikan ke mereka, ceritakan ke mereka, berikan contohnya. Tunjukkan leadership anda. Sayangi mereka. Bimbing mereka. Percayai mereka, tapi awasi juga mereka, jaga mereka itu tugas anda semua. Berikan virus-virus yang baik-baik, virus rasa kecintaan bahwa anda bagian dari kelompok elit. You’re elite in a different way. You’re elite because this republic needs you,” tegas Menkeu. (ip/as)

Sri Mulyani di HUT APINDO
Menkeu Sri Mulyani di HUT APINDO
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghadiri acara CEO Gathering di Gedung Permata Kuningan, Jakarta pada Jumat (03/02).  Acara ini merupakan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Menkeu mengajak para pengusaha yang tergabung dalam APINDO untuk bersama-sama mendorong pertumbuhan investasi di Indonesia.

"The confident of investors tergantung pada anda semua. Kalau APINDO wants to make it good, so you have to make it really good," katanya dalam acara yang bertajuk “Outlook Perekonomian Indonesia 2017”.

Menurut Menkeu, investasi sangat penting untuk menciptakan daya saing dan daya tarik bagi sektor-sektor manufaktur. “Untuk investasi, kita punya kemampuan utk meng-attract investor. Ada tren positif realisasi investasi, baik PMA maupun PMDN. Tapi tolong perhatikan, ini situasi saat harga komoditas tertekan selama 3 tahun. Kita punya daya tarik beyond komoditas,” jelas Menkeu.

Oleh karena itu, pemerintah menyatakan keseriusannya untuk mengurangi berbagai hambatan investasi. “Kita tidak ingin tergantung pada beberapa sektor saja. Itu tidak sehat utk ekonomi kita,” tambahnya. Tak lupa, ia juga menyampaikan ucapan selamat bagi APINDO. “Saya ucapkan selamat ulang tahun untuk APINDO yang ke 65. 65 is the new 35," kata Menkeu. (ip/rsa)

LPDP EduFair, Pameran Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Edufair 2017 tengah berlangsung di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat. LPDP Edufair kali ini merupakan pameran ketiga sejak didirikan 5 tahun yang lalu.

 Dalam sambutannya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa dana LPDP yang disalurkan kepada para penerima beasiswa berasal dari pajak negara. Penerimaan pajak yang didapatkan pemerintah juga tidak mudah untuk didapatkan.
Sri Mulyani Indrawati Beasiswa LPDP
Menkeu Sri Mulyani Indrawati

 "Yang mendapatkan award dari scholarship LPDP anda dibayar uang pajak, di-collect rupiah demi rupiah uang pajak yang tidak mudah kita kumpulkan. Bukan dari langit, bukan dari sumur, hasil masyarakat Indonesia dan kita kumpulkan dengan susah payah," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (31/1/2017).

 Sebagian penerimaan negara tersebut kemudian dimasukan ke dalam beasiswa LPDP yang diharapkan bisa membangun SDM Indonesia yang lebih baik lagi. Mereka yang sudah selesai menempuh pendidikan dengan fasilitas negara ini juga nantinya wajib mengabdikan dirinya di Indonesia.

 "Dengan senang hati menginvestasikan kepada anak-anak yang memiliki ide, cita-cita, idealisme bangun Indonesia ke depan dengan baik," kata Sri Mulyani. Jumlah pengunjung LPDP Edufair 2017 di gedung Dhanapala Kementerian Keuangan hari ini dipadati lebih dari 16.000 orang.

LPDP Edufair 2017 digelar di tiga lokasi dengan tanggal berbeda, antara lain di Gedung Dhanapala Kemenkeu, Jakarta Pusat, Airlangga Convention Center, Universitas Airlangga di Surabaya, dan Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Baca juga:
Sri Mulyani: LPDP Glontorkan Rp 2.5 triliun untuk Beasiswa Pendidikan Tinggi
- Begini Cara Mendapat Beasiswa LPDP EduFair
- Tips Mendapatkan Beasiswa LPDP dari Dirut LPDP Sendiri.

Jokowi KITE IKM
Jokowi KITE IKM di Boyolali Jawa Tengah
Kunjungan Kerja ke Provinsi Jawa Tengah_

*Fasilitas KITE IKM Turunkan Biaya Produksi 25 persen*

Pemerintah Indonesia terus berupaya memberikan kemudahan bagi para pelaku industri kecil dan menengah di Tanah Air agar dapat bersaing di pasar global. Upaya tersebut salah satunya ditunjukkan dengan diluncurkannya Kebijakan Fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor bagi Industri Kecil dan Menengah (KITE IKM) oleh Presiden Joko Widodo pada Senin, 30 Januari 2017, di Sentra Kerajinan Tembaga Tumang, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.

KITE IKM yang merupakan produk dari kebijakan paket ekonomi tahap pertama memiliki beragam keuntungan yang dapat mendukung IKM dalam meningkatkan daya saing di dunia internasional. "Bahan baku bisa beli langsung, biaya pajak impor dihilangkan, biaya masuk juga hilang," terang Presiden Joko Widodo. Bahkan, Kepala Negara meyakini bahwa KITE IKM bisa meningkatkan efisiensi biaya produksi hingga 25 persen. Mengingat efisiensi di sektor pembiayaan dapat membantu meningkatkan nilai ekspor. "Kalau tidak seperti itu ya sampai kapan pun kita sulit bersaing dengan negara lain. Ekspor memang kita dorong dengan cara efisiensi di semua sisi pembiayaan," terangnya.

Seperti diketahui, kontribusi IKM Indonesia terhadap ekspor nasional masih relatif rendah jika dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. Kontribusi sektor IKM terhadap ekspor Indonesia tahun 2015 hanya 15,8 persen, jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara sekawasan di Asia Tenggara. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo langsung memberikan instruksi kepada Menteri Perindustrian untuk melakukan kerja sama dengan sejumlah pendesain internasional. Hal ini dilakukan guna mengembangkan industri dalam negeri agar lebih siap bersaing di pasar global.
"Saya tadi bisik ke Menteri Perindustrian untuk dicarikan desainer yang di Tumang dulu, bisa dari Italia atau Prancis sehingga desain jangan monoton. Tiap tahun desain bisa berubah-ubah," ucap mantan Walikota Solo tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Joko Widodo juga turut menyaksikan penandatanganan MoU antara Menteri Keuangan dan Menteri Perindustrian tentang Pengembangan Industri Kecil dan Industri Menengah (IKM) dalam lingkup Pembiayaan Penjaminan Asuransi serta Jasa Konsultasi IKM Berorientasi Ekspor. Presiden Joko Widodo pun berharap dengan peluncuran KITE IKM dapat menggairahkan para pelaku IKM untuk terus menggiatkan sektor usahanya dan bersaing dengan pengusaha dari negara lain. Selain itu, pemerintah juga berharap KITE IKM dapat menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan kontribusi besar terhadap produk domestik bruto.

"KITE IKM ini kita harapkan dapat memberikan dorongan, memberikan motivasi, karena kalau ini nanti benar-benar berjalan paling tidak 'cost', biaya produksi, yang ada di usaha kecil dan usaha menengah kita menjadi bisa ditekan turun," terangnya.

Turut mendampingi Presiden dalam acara tersebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Perdagangan Enggiartasto Lukita, Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Boyolali, 30 Januari 2017
Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden
Bey Machmudin

Washinton DC – Apakah Musim Semi Arab (Arab Spring) tengah berubah menjadi musim gugur yang kelam? Dengan razia brutal di Syria, perang saudara berdarah di Libya, serta Yaman yang terhuyung-huyung di tubir kekacauan, jumlah orang yang skeptis pun bertambah. Sekalipun gerakan prodemokrasi di Mesir dan Tunisia berhasil mengubah rezim dengan cepat, ketidakpastian juga masih membayangi negara-negara tersebut. Sesudah sejenak masa penuh harapan, banyak pengamat kini bertanya-tanya apakah kawasan tersebut mampu melahirkan demokrasi yang berjalan baik seiring dengan perekonomian yang sehat.
Sri Mulyani Indrawati

Revolusi dan dampak ikutannya tentu saja selalu merupakan masa-masa yang cair dan penuh gonjang-ganjing, dan hasilnya kerap bagai telur di ujung tanduk. Menjembatani jurang luas antara ekspektasi yang tinggi dan kenyataan tentang terbatasnya anggaran serta kemampuan merupakan ujian tersendiri. Menebus ketidakadilan di masa lampau dan membangun perekonomian yang menawarkan peluang bagi semua orang merupakan tantangan-tantangan besar pula, penuh dengan kerentanan, ketidakpastian, dan ancaman oportunisme politik.

Namun transisi juga merupakan saat-saat penuh kesempatan besar. Pada 1990an, saya termasuk orang Indonesia yang menuntut dan merayakan lengsernya otokrat kami, Soeharto, dan saya bergabung dengan pemerintahan yang baru sesudah ia menyingkir. Banyak pengamat memprediksi bahwa Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar sedunia, takkan mampu mempertahankan demokrasi dan pada akhirnya akan jatuh dalam kekacauan. Tugas yang menghadang kami tampak menakutkan. Namun kami buktikan bahwa para skeptis itu keliru, dan memetik beberapa pelajaran mendasar dari sana.

Barangkali yang terpenting, kami belajar bahwa demokratisasi tak punya “cetakan” solusi. Masing-masing negara di Timur Tengah dan Afrika Utara akan menghadapi tantangan yang unik, yang harus ditangani dengan caranya sendiri-sendiri. Meski demikian, mereka semua harus membuat keterputusan riil dan simbolik dengan masa lalu. Pemerintahan yang baru harus mengirim isyarat kuat bahwa cara-cara lama telah berakhir.

Perubahan harus diwujudkan secara formal, dengan hukum-hukum baru yang dipublikasikan secara luas. Aturan yang memberdayakan warga dengan kebebasan berekspresi, pemilu yang bebas dan independen, serta kebebasan berserikat amatlah penting, dan harus diperjelas ke depan umum bahwa tak ada seorang pun yang mengatasi hukum. Tanpa ini transisi akan dilemahkan.

Lebih lagi, korupsi adalah racun bagi pembangunan di mana pun, jadi pemerintahan yang baru harus bergerak cepat menetapkan institusi-institusi serta prosedur-prosedur untuk memeranginya. Transparansi dan akuntabilitas adalah ide-ide perkasa dengan dukungan yang nyaris universal sifatnya, yang artinya para pemimpin baru ini tidak semestinya menyerah ketika pertarungan menjadi sulit. Organisasi-organisasi masyarakat sipil, komunitas-komunitas lokal, perwakilan kaum miskin dan lemah, serta kaum perempuan memainkan peran vital dalam hal ini, dan mereka harus dilibatkan dalam setiap tataran pengambilan keputusan.

Di Indonesia, kami menandatangani seratus undang-undang kurang dari 18 bulan, mencakup apa saja mulai kebebasan media massa hingga pemilu, korupsi, desentralisasi, dan aturan-aturan anti-trust. Kami meratifikasi aturan keuangan publik yang baru dan memastikan independensi bank sentral negara kami.

Pemimpin yang baru juga harus mengantisipasi dan mengelola kemunduran. Pada masa pascarevolusi, ekspektasi begitu tinggi, dan rintangan untuk memenuhinya juga besar. Saya tahu dari pengalaman pribadi bahwa kita tidak selalu punya keleluasaan untuk mencapai keluaran terbaik. Kita harus berkompromi dan menetapkan hasil terbaik yang memungkinkan.

Ancaman keamanan termasuk kendala paling serius dalam masa transisi. Sentimen nasionalistik menguat, dan para politisi serta kelompok kepentingan bisa mengeksploitasinya. Kerapkali, pasukan keamanan merupakan peninggalan rezim lama, sementara sistem pengadilan yang independen belum ada. Reformasi akan makan waktu, dan birokrasi lama bisa jadi takkan mampu mengimplementasikannya.

Di Indonesia, kami memakai pelbagai inovasi untuk mengelola dilema-dilema macam itu. Misalnya, kami menunjuk hakim independen untuk mengambil alih pengadilan kepailitan dan korupsi, sebab hakim karir telah terlampau ternoda. Sama halnya, ketika kami memulai program cash-for-work sebagai bagian dari agenda pengentasan kemiskinan, kami meminta komunitas masyarakatlah yang menjalankan inisiatif-inisiatif ini.

Lebih luas lagi, pemimpin baru sangat disarankan agar menjamin kinerja perekonomian berjalan baik. Penting kiranya untuk memulihkan aktivitas perekonomian dan menciptakan lingkungan yang mendukung kewirausahaan, terutama usaha-usaha kecil menengah, yang merupakan mesin penciptaan lapangan kerja yang utama. Revolusi-revolusi mutakhir ini, perlu diingat, bermula dari pengurbanan diri seorang pedagang buah Tunisia, yang dilecehkan dan direndahkan oleh pihak berwenang.

Namun sukses ekonomi tanpa akuntabilitas dan inklusi sosial tidak akan berkelanjutan, dan pemerintahan yang baru kerap harus menghadapi pilihan-pilihan sulit demi melindungi kaum miskin dan lemah. Mereka bisa jadi perlu menghapuskan subsidi-subsidi salah sasaran untuk membebaskan sumber daya demi program-program pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja yang lebih tepat sasaran dan efisien.

Di Indonesia, kami harus menarik garis antara yang sangat miskin (the very poor) dengan yang mendekati miskin (the near-poor). Kami tak mampu menaikkan gaji atau memberi subsidi bagi semua orang. Bantuan pemerintah harus bersasaran. Jadi, saat kami membantu yang paling membutuhkan, kami kesampingkan pihak-pihak yang tidak cukup miskin untuk diberi bantuan. Ini pilihan yang sulit dan tak populer.

Terakhir, negara-negara dalam masa transisi membutuhkan dukungan—bukan hanya dana, namun juga pengetahuan teknis untuk menerapkan reformasi yang amat kompleks. Saat menjabat Menteri Keuangan Indonesia, saya punya 64.000 pegawai. Namun saat kami perlu memodernisasi sistem perpajakan, kami sama sekali tidak bisa mendapati keahlian yang diperlukan untuk itu di negeri kami.

Ya, kami butuh bantuan dari luar, namun kami takkan pernah menyerahkan “kepemilikan” proses reformasi ini; kami membuatnya berjalan untuk kami. Bila kami orang Indonesia tidak memikul tanggung jawab atas transisi kami sendiri, proses ini dengan gampang akan gagal. Itu jugalah pelajaran yang harus dicamkan oleh negara-negara dalam masa transisi.

Artikel asli dalam Bahasa Inggris bisa ditemukan di http://www.project-syndicate.org/commentary/indrawati1/English

Diterjemahkan oleh : Ronny Agustinus

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget